Mereka gelap, sama seperti hari ku. Aku kehilangan keceriaan, tak ada matahari, karena mereka akan berganti menjadi gelap. Aku butuh riakan gelombang, untuk menyadarkan ku ketika sampai di darat. Aku butuh mereka, melamun dalam ruang pikir sempit.
Ada warna abu-abu, yang mengajak aku berlari takut dan menggebu.
Ada warna putih, yang seolah menemaniku agar merasa tenang.
Ada warna biru, yang melambai sebagai pembatas bebas ku.
Aku butuh di larang, aku butuh pembatas, namun aku juga butuh kebebasan.
Atau mungkin jarak pembagi antara imaji, mimpi atau kehidupanku ini.
Kadang mimpi terbawa bebas, aku sulit mengolah bahkan membaginya.
Hmmmmm, biarkan saja tetap di sana. Antara 50 dan 50 jangan di atas 100 atau di bawah 0. Antara ombak biru yang menggulung dan antara pasir putih keabu-abuan yang tertiup angin. Di ambang pikirku biar angin meniupnya, biarkan ombak membawanya, biarkan ia tk bermuara. Biar mimpi menentukan nya, menjadi benih harap dan di gantungkan menjadi harapan.
Sambut gelap dengan fantasi cahaya, sambut ombak biru dengan ragamnya ikan warna warni, sambut barisan kelabu abu-abu dengan pelangi mejikuhibiniu, sambut pasir abu-abu dengan kepiting merah yang mencapit dunia mimpimu .
Biru lepas bebas tetap dalam angan perbatasan imaji dan nyata.
(Potret kami - aku dan ombak pantai pangumbuhan- Ujung Genteng)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar