it's was me

it's was me

Senin, 28 Mei 2012

Ini arti sesungguhnya

Hey kamu, yang mengaktifkan Twitter sejak 29 Juni 2011 lalu

Baru saja aku melihat mu berkeliaran di timeline ku, melihat mu dalam keadaan yang sekarang ini, ingin rasanya slalu ada di samping mu memberi semangat untuk melanjutkan kehidupan ini. Ingin rasanya selalu ada untuk mu dalam kesedihan mu. 

Tau sekali rasanya di posisi mu saat ini, karena aku pernah ada di posisi itu. Kehilangan orang yang kita sayang memang berat. Begitupun waktu aku mendengar kabar kaka ketigamu meninggal dunia, itu terasa berat untuk ku, karna aku salah satu orang yang menyayanginya.

Saat aku mendengar kabar kepergian dia, aku sudah tak bisa berkata-kata apapun, karna aku salah satu penganut kepercayaan yang tak boleh mendoakan roh orang yang sudah meninggal, aku hanya bisa berdoa untuk keluargamu yang di tinggalkan.

Aku tak tau lagi apa yang ingin aku katakan, sampai saat ini masih tak percaya, sampai saat ini aku benar-benar merasa kehilangan. Saat ini yang ada di pikiran ku adalah kematian yang begitu tak terprediksi oleh apapun. Kematian bisa datang kapan saja, dimana saja dan pada siapa saja. Ya kita kita harus lebih menghargai yang namanya hidup.


Aku berpikir, berapa banyak lagi waktu tersisa untuk kita bersama dengan orang-orang yang kita sayang? Berapa lama lagi kita mau nyakitin mereka, kalau tau pada akhirnya kita nangis dan menyesal akan semua itu? Hidup itu berharga kawan, terlalu berharga untuk di sia-siakan menyakiti orang yang kita sayang. Setidaknya ada sesuatu yang bisa saya ambil dari kepergian dia, cuma bisa bilang makasih buat semuanya, permintaan maafpun yang ga bisa abang denger,cuma bisa aku sampein lewat doa.


Pada intinya, rencana Tuhan gada yang tau. Yang kita tau, rencana Nya tuh indah di luar pemikiran kita. Seperti kepulangan abang, yang ninggalin banyak pelajaran berharga untuk orang-orang yang kenal, dan peduli sama abang. Klo boleh jujur, sampe kepulangan abang aku ga pernah punya idola pemain DJ, tapi sekarang aku punya. Yap itu abang... :)




Kamis, 24 Mei 2012

Aku Dan Dunia Imaji

Aku mengamati mereka, desiran ombak yang beriak memanggil aku untuk bermain dengan nya. Bentangan dari kiri sampai ke kanan, yang ku lihat hanya biru, abu-abu dan putih. Tak ada hijau, kuning ataupun merah.

Mereka gelap, sama seperti hari ku. Aku kehilangan keceriaan, tak ada matahari, karena mereka akan berganti menjadi gelap. Aku butuh riakan gelombang, untuk menyadarkan ku ketika sampai di darat. Aku butuh mereka, melamun dalam ruang pikir sempit.

Ada warna abu-abu, yang mengajak aku berlari takut dan menggebu.
Ada warna putih, yang seolah menemaniku agar merasa tenang.
Ada warna biru, yang melambai sebagai pembatas bebas ku.

Aku butuh di larang, aku butuh pembatas, namun aku juga butuh kebebasan.
Atau mungkin jarak pembagi antara imaji, mimpi atau kehidupanku ini.
Kadang mimpi terbawa bebas, aku sulit mengolah bahkan membaginya.


Hmmmmm, biarkan saja tetap di sana. Antara 50 dan 50 jangan di atas 100 atau di bawah 0. Antara ombak biru yang menggulung dan antara pasir putih keabu-abuan yang tertiup angin. Di ambang pikirku biar angin meniupnya, biarkan ombak membawanya, biarkan ia tk bermuara. Biar mimpi menentukan nya, menjadi benih harap dan di gantungkan menjadi harapan.

Sambut gelap dengan fantasi cahaya, sambut ombak biru dengan ragamnya ikan warna warni, sambut barisan kelabu abu-abu dengan pelangi mejikuhibiniu, sambut pasir abu-abu dengan kepiting merah yang mencapit dunia mimpimu .

Biru lepas bebas tetap dalam angan perbatasan imaji dan nyata.



                               (Potret kami - aku dan ombak pantai pangumbuhan- Ujung Genteng)

Selasa, 22 Mei 2012

Langit Sukabumi (Ujung Genteng)

Kaki ku berpijak, biru membentang dan tak'kan terhempas. Hijau menyambut eloknya dunia kecil Sukabumi. Tak lepas aku berpikir, menyaksikan indah sambungan tangan-Nya yang tak henti berkarya.

Bicara dalam hening, dan akupun terkagum. Mungkin aku terlalu pemalu untuk berteriak, dan juga mungkin aku terlalu berisik untuk diam. Tapi ribuan pemikiran bergeliat menyita semua pikiran ku.

Melepas semua penat, aku berjalan menyongsong tawa. Terjaga, aku tak mengerti apa-apa, dunia baru yang seminggu akan kulalui. Mungkin indah, apakah akan ada sengsara? Tanya itu sesaat muncul, mencoba mengusir gundah, mencoba mengusir takut.

Dengan menelusuri barisan jejak, untuk sampai dalam susana rahasia. Biarkan kulalui, cukup penuh rahasia. Hanya angin ini, tempat tanah berpijak, Tuhan dan aku yang akan jalaninya. Yang menyimpan semua senyuman kecil dalam secangkir teh, yang menyimpan sedikit kecewa tapi akan berakhir bahagia. Yang menyimpan segudang kekaguman untuk kehidupan dalam rumah sederhana., yang menyimpan segala lelah dalam sembilan jam perjalanan, dan menuangkannya dalam langit terang perjumpaan dengan bahagia.

Aku di sini, sudah di tempat yang berbeda. Aku akan merindukan langit Sukabumi, rumah sederhana namun tercelup semua bahagia, tawa lepas yang tak mungkin ku temui di Jakarta. Biarkan ini tak hanya jadi kenangan. Meski terasa jauh, tapi suasana bersahabat selalu terlibat dalam pikir dan bayangan.




PS: Berterimakasih untuk KENANGAN. Meski waktu berjalan seperti putaran, ada kenangan yang bisa di bawa pulang dari masa lalu, atau pun sesuatu yang rasanya tak bisa di beli dengan waktu. Bersyukur punya kenangan yang indah, pahit, manis, dan berbagai rasa lainnya yang pernah di rasakan.